content header
History

The History of Christian Student Ministry of Perbanas

PO ABFI Institute Perbanas Other Website

Komunitas Kristen di STIE Perbanas diawali dengan sebuah persekutuan doa kecil dan sederhana, dari beberapa mahasiswa/i yg Kristen, yg konon dimulai kira2 thn 1982. Lalu dikabarkan bhw sempat terjadi kevakuman kegiatan mereka selama beberapa saat. Lalu beberapa senior menjalin kerjasama dengan LPMI (Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia), untuk membentuk kelompok-kelompok KTB (kelompok tumbuh bersama), dan dari hasil pemuridan itulah akhirnya mereka merasa terpanggil dan bersepakat untuk membentuk sebuah kepengurusan. Pada kira2 bulan oktober1986 terbentuklah kepengurusan PMK (Persekutuan Mahasiswa Kristen) Perbanas, yang waktu itu diketuai oleh saudara Emil. Bulan Oktober 1986 itulah yang kemudian diyakini sebagai saat lahirnya persekutuan mahasiswa Kristen di Perbanas.

Pada perkembangan berikutnya, untuk membangun dirinya dan memperluas wawasan pelayanannya, PMK Perbanas menjalin hubungan dengan berbagai lembaga pelayanan yang memiliki visi mahasiswa, seperti Charisma Campus Ministry (sekarang lebih dikenal sebagai R116 Community), Perkantas, LPMI dll.

Para pendiri komunitas ini, sejak awal selalu menekankan prinsip2 pelayanan yang Alkitabiah, Independen (bebas bekerja sama dgn lembaga apapun tanpa suatu ikatan), dan Interdenominasi (terbuka bagi semua kalangan dari latar belakang gereja apapun yg mengacu kepada Alkitab sebagai firman Tuhan). Para pendahulu dari PMK mencatat bahwa perkembangan yang begitu pesat, sempat terjadi dalam komunitas ini. Ditandai dengan kehausan yg begitu dalam dari para mahasiswa untuk mencari Tuhan, dalam ibadah2 setiap hari jumat. Kelas-kelas yang dipakai kebaktian selalu penuh sesak oleh jemaat yg hadir, bahkan sampai harus memasang kursi2 tambahan di luar ruang kelas, dan mereka yg duduk di luar, terpaksa hanya bisa melihat kedalam melalui jendela kaca. Ruang2 perpustakaan selalu dipenuhi oleh anak2 PMK yg studi bersama, dan bahkan kadang berdiskusi alkitab, dan menjadikannya sarana untuk bersaksi kepda teman2 lainnya yg belum bergabung dalam komunitas.

Sejak dulu basis komunitas ini adalah kelompok2 kecil yang kuat dan anggota-anggota yang dilatih untuk dapat bersaksi, memimpin, dan berkomunikasi di depan umum. Pada tahun 1990, kurang lebih ada sekitar 30 kelompok kecil dengan anggota masing2 berjumlah rata2 Tujuh (7) orang.

Namum disamping masa2 ke-emasan yg terjadi di masa itu, PMK juga sempat mengalami masa2 ‘kegelapan’. Beberapa orang aktivis PMK merasa tidak puas dengan tata cara ibadah dan prinsip pelayanan PMK yg dinilai terlalu menonjolkan denominasi gereja tertentu. Atas dasar hal tersebut, kemudian mereka membentuk persekutuan lain di Perbanas, dengan nama Persekutuan Oikumene (PO) Perbanas. Dan karena PO berhasil mendapatkan dukungan dari senat waktu itu, maka merekalah yang memperoleh fasilitas dari kampus untuk kegiatan2 mereka. Sementara PMK pada waktu itu, terpaksa mengadakan ibadah di luar area kampus, dengan menyewa sebuah restoran di sekitar kampus untuk kebaktian setiap jumatnya. Hampir selama 1 tahun, waktu itu Perbanas memiliki 2 persekutuan yang berjalan bersamaan dan masing2 memiliki massa pendukung yg berbeda.

Tetapi pengalaman tersebut memberikan kepada kita sebuah pelajaran berharga. Yang pertama yaitu bahwa sehebat apapun sebuah pekerjaan yang kita lakukan, jika tanpa dilandasi oleh semangat kesatuan atas dasar cinta kepada Tuhan dan sesama, maka semua itu akan menjadi sia-sia. Dan yang kedua adalah bahwa dalam setiap konflik yang terjadi di dalam sebuah organisasi diperlukan sebuah keterbukaan untuk tetap menjalin komunikasi, dan keberanian untuk saling mengakui kelemahan masing2 dan juga menghargai kelebihan yg lainnya.

Benarlah apa yang dikatakan Tuhan Yesus dalam doaNya sebelum Dia disalibkan :

Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. (Yoh 17:20-21)

Dunia hanya akan percaya kepada Tuhan Yesus, jika umatnya mempraktekkan kasihNya dan memelihara kesatuan. Pada waktu itu jemaat yang mengikuti setiap ibadah PMK maupun PO, mengamati hal yg terjadi dan terus bertanya-tanya mengapa hal tersebut bisa terjadi. Pertanyaan2 yg tak terjawabkan tersebut, akhirnya menjadi pemicu turunnya semangat para mahasiswa/i Perbanas dalam mengikuti kegiatan2 pelayanan dalm komunitas Kristen. PMK akhirnya terlebih dulu mengalami masa vakum. Saat para seniornya lulus dari Perbanas, maka para junior seolah merasa kehilangan arah untuk meneruskan pelayanan ini, dan akhirnya kegiatan PMK terpaksa dihentikan.

PO sendiri tidak lepas dari fenomena yang sama dengan PMK. Itulah saat yang paling kritis yang pernah dialami pelayanan mahasiwa Kristen di Perbanas. Tetapi dalam masa kritis atau keterpurukan apapun, kasih setia TUHAN tidak pernah meninggalkan anak2Nya. Kurang lebih pada akhir 1993 atau awal 1994, ketua PO, sdri Irene Aruan mencoba menghubungi sdr Valdy untuk bertemu dan membicarakan kelanjutan pelayanan PO. Valdy pada waktu itu adalah salah satu mantan senior dari kubu PMK yg sudah vakum kegiatannya. Waktu pertemuan berlangsung, sdr Irene didampingi oleh sdri Sabarulin (salah seorang pembina PO yg juga adalah rekan se-angkatan Valdy, semasa mereka dibina bersama-sama oleh para seniornya di PMK).

Pertemuan tersebut sesungguhnya sangatlah bersejarah, karena praktis selama setahun lebih, para senior PMK dan PO tidak pernah lagi bertemu secara resmi, untuk membiarakan pelayanan.  Inti dari pembicaraan itu adalah bahwa PO mengalami krisis regenerasi dan kepemimpinan, sehingga tidak menemukan seseorang pun yg dipandang siap untuk menggantikan Irene untuk melanjutkan pelayan, sebagai Ketua PO.  Maka mereka mengharapkan kesediaan Valdy, yg pada waktu itu baru melanjutkan kuliah program S-1 nya, untuk menjadi ketua PO yg baru, menggantikan Irene.

Pada waktu itu Valdy menyatakan bersedia, dan akhirnya diangkat sebagai Ketua PO periode 1994, dengan dibantu oleh tim kepengurusan yang dibentuk bersama-sama. Merasa bahwa masalah ‘perpecaan’ di masa lalu harus diselesaikan secara tuntas, maka Valdy berinisiatif untuk mengajak para senior PO untuk mengadakan rekonsiliasi dengan cara berdiskusi dan berdoa bersama di sekretariat PO. Pada waktu itu beberapa senior PO hadir dalam doa tersebut. Sedangkan dari pihak PMK, hanya diwakilkan oleh Valdy sendiri, karena para senior PMK telah lama tidak eksis di kampus, karena telah lulus.

Inti dari doa rekonsiliasi tersebut adalah bahwa kita semua saling mengakui kesalahan kita masing-masing (baik dari PMK maupun PO), tanpa berdalih apapun, lalu berjanji dan berkomitmen bersama-sama untuk tidak lagi berseteru dan berusaha dengan sekuat tenaga untuk membangun pelayanan kembali atas dasar cinta kepada Tuhan Yesus dan kepada jiwa-jiwa. Kita juga bersepakat untuk kembali kepada prinsip-prinsip pelayanan yang telah diletakkan oleh ‘The Founding Fathers’ dari pelayanan mahasiswa Kristen di Perbanas, yaitu menjalankan pelayanan yang Alkitabiah, independent, dan interdenominasi.

Sejak saat itu semua ganjalan, kecurigaan, kebencian, dan perasaan hati yang berat, diruntuhkan oleh kasih Kristus yang begitu menguasai hati kita kembali. Pelayanan kita kemudian menjadi bergairah kembali. Semangat untuk menjangkau jiwa-jiwa kembali menguasai hati kita.

Setelah masa itu, prinsip-prinsip pelayanan yg diletakkan para pendiri pelayanan mahasiswa Kristen Perbanas, selalu dijunjung tinggi, paling tidak selama beberapa periode berikutnya. Masa pasang surut dalam sebuah organisasi pelayanan adalah hal yg wajar dan dapat saja terjadi, namun menurut pengamatan dan pendapat saya, haruslah disadari bahwa beberepa periode kepengurusan PO, agaknya sempat melupakan prinsip2 tersebut dan membuat kondisi pelayanan menjadi kurang kondusif.

Oleh sebab itu, saya ingin mengajak saudara semua, komunitas pelayanan mahasiswa Kristen Perbanas, PO Perbanas (atau apapun namanya nanti), dari semua angkatan, baik yang sekarang dan yang selanjutnya, untuk memegang prinsip-prinsip positif yg telah diletakkan oleh para senior-senior kita dan terus melakukan pelayanan kita atas dasar cinta kepada Tuhan Yesus dan kepada sesama.

Kepada semua pengurus dan aktivis pelayanan mahasiswa Kristen Perbanas (PMK dan PO) dari mulai angkatan yang pertama sampai angkatan sekarang, saya menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada saudara semua, karena benih yang saudara tabur atas dasar kasih, tidak akan mati sia-sia, melainkan akan tumbuh subur dan akan membekas selamanya dihati jiwa-jiwa yang kita layani bersama-sama.

“Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.”  (I Kor 15:58)

Rock you with the Love of Christ,

Crashtian Valdy Maail*

footer